Senin, 19 Maret 2012

PSIKOLOGI AGAMA : Problema dan Gangguan dalam Perkembangan Jiwa Keagamaan

Oleh : Zaenal Arifin

Agama berkaitan erat dengan kehidupan batin manusia. Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir. Akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbangan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol, jika kebutuhan akan beragama tertanam dalam dirinya. Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas berdasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya.

Pada dasarnya jiwa keagamaan manusia berasal dari dua faktor, yaitu faktor intern mengatakan bahwa manusia adalah homo relegius (makhluk beragama) karena manusia sudah memiliki potensi untuk beragama, seperti naluri, akal, dan perasaan. Dan faktor ekstern terdorong beragama karena pengaruh dari luar dirinya, seperti rasa takut, rasa ketergantungan ataupun bersalah, dan sebagainya yang menyebabkan lahirnya keyakinan pada manusia. Sikap Keagamaan dan Pola Tingkah Laku Dr. Mar’at mengemukakan ada 13 pengertian sikap, yang dirangkum menjadi 4 rumusan berikut : Pertama, sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (di rumah, sekolah, dll) dan senantiasa berhubungan dengan obyek seperti manusia, wawasan, peristiwa atau pun ide, sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap obyek. Kedua, bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif atau ragu, dengan memiliki kadar intensitas yang tidak tentu sama terhadap obyek tertentu, tergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai sedangkan di saat dan situasi berbeda belum tentu cocok. Ketiga, sikap dapat bersifat relatif consistent dalam sejarah hidup individu, karena ia merupakan bagian dari konteks persepsi atau pun kognisi individu. Keempat, sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan, karenanya sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai. Dari rumusan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara kompleks. Komponen kognisi akan menjawab apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Faktor penentu sikap, baik sikap positif atau pun sikap negatif, adalah motif, yang berdasarkan kajian psikologis dihasilkan oleh penilaian dan reaksi afektif yang terkandung dari sebuah sikap. Motif menentukan tingkah laku nyata (overt behavior) sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup (covert behavior). Dengan demikian, sikap yang ditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berfikir, merasa dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap sesuatu obyek. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan pengaruh bawaan (factor intern) seseorang, serta tergantung kepada obyek tertentu. Karena sikap dipandang sebagai perangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu. Jadi, sikap keagamaan adalah perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan batin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya. Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi (pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang. Selanjutnya dari sikap keagamaan tersebut, lahirlah pola tingkah laku untuk taat pada norma dan pranata keagamaan dan bahkan menciptakan norma dan pranata keagamaan tertentu sebagai bentuk perwujudan dari kesadaran agama dan pengamalan agama. Sikap Keagamaan yang Menyimpang Dalam setiap agama, memuat ajaran norma-norma yang dijadikan sebagai petunjuk dan tuntunan bagi para pemeluknya dalam bersiap dan bertingkah laku. Hal itu bertujuan untuk mencapai nilai-nilai yang luhur dalam pembentukan kepribadian dan keserasian hubungan sosial sebagai upaya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, tidak jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ditemukan adanya perilaku menyimpang dalam sikap beragama. Perilaku menyimpang tersebut terjadi disebabkan adanya sikap seseorang mengalami perubahan terhadap kepercayaan dan keyakinan agama sebagai pemeluknya. Perubahan sikap dapat terjadi pada tiap individu maupun kelompok atau masyarakat. Tingkat kualitas dan intensitas perubahan siakp mungkin berbeda dan bergerak secara kontinyu dari positif melalui arela netral ke arah negatif. Sikap keagamaan yang menyimpang dari ajaran agama yang cenderung keliru mungkin akan menimbulkan suatu pemikiran dan gerakan pembaruan, baik ke arah yang positif maupun ke arah yang negatif. Adanya sikap menyimpang seperti sikap kurang toleran, fanatisme, fundamentalis maupun sikap yang menentang terhadap ajaran agama. Hal itu merupakan masalah pada tingkat tertentu yang dapat menimbulkan tindakan negatif dan berpeluang terjadi dalam diri seseoranga maupun kelompok pada setiap agama. Biasanya siakap keagamaan yang menyimpang dalam bentuk kelompok aliran berawal dari pengaruh sikap seorang tokoh dalam hubungan persepsi seseorang mengenai kepercayaan dan keyakinan yang diant pemeluknya. Sikap keagamaan yang menyimpang sering menimbulkan permasalahan yang cukup rumit dalam setiap agama, terutama adanya kecenderungan dengan motif yang bersifat emosional yang lebih kuat daripada sifat rasional. Akibatnya, dapat menimbulkan berbagai gejolak di masyarakat, baik dari segi politik sampai segi sosial. Penyimpangan terjadi pada manusia dalam kaitannya dengan nilai-nilai ajaran agama, yaitu bidang keyakinan, ritual, doktrin, ataupun perangkat keagamaan. Kehadiran aliran baru da keluar dari nilai-nilai ajaran formal, dianggap sebagai sebuah penyimpangan yang dapat mengarah bentuk gerakan baru dalam keagamaan. Sikap keagamaan sangat erat hubungannya dengan keyakinan/ kepercayaan. Dan keyakinan merupakan hal yang abstrak dan susah dibuktikan secara empirik, karenanya pengaruh yang ditimbulkannya pun lebih bersifat pengaruh psikologis. Keyakinan itu sendiri merupakan suatu tingkat fikir yang dalam proses berfikir manusia telah menggunakan kepercayaan dan keyakinan ajaran agama sebagai penyempurna proses dan pencapaian kebenaran dan kenyataan yang terdapat di luar jangkauan fikir manusia. Karenanya penyimpangan sikap keagamaan cenderung didasarkan pada motif yang bersifat emosional yang lebih kuat dan menonjol ketimbang aspek rasional. Penyimpangan sikap keagamaan, ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang ( tingkat fikir materialistik dan tingkat fikir transendental relegius), sehingga akan mendatangkan kepercayaan/keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). Jika keyakinan itu bertentangan atau tidak sejalan dengan keyakinan ajaran agama tertentu, maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang. Penyimpangan sikap keagamaan ini, disamping menimbulkan masalah pada agama tersebut, juga sering mendatangkan gejolak dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyimpangan Sikap Keagamaan Perubahan sikap keagamaan adalah awal proses terjadinya penyimpangan sikap keagamaan pada seseorang, kelompok atau masyarakat. Perubahan sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka sikap dapat diubah walaupun sulit. Karenanya perubahan sikap, dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : 1. Adanya kemampuan lingkungan merekayasa obyek, sehingga menarik perhatian, memberi pengertian dan akhirnya dapat diterima dan dijadikan sebagai sebuah sikap baru. 2. Terjadinya konversi agama, yakni apabila seseorang menyadari apa yang dilakukannya sebelumnya adalah keliru, maka ia tentu akan mempertimbangkan untuk tetap konsisten dengan sikapnya yang ia sadari keliru. Dan ini memungkinkan seseorang untuk bersikap yang menyimpang dari sikap keagamaan sebelumnya yang ia yakini sebagai suatu kekeliruan tadi. 3. Penyimpangan sikap keagamaan dapat juga disebabkan karena pengaruh status sosial, dimana mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya, karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya. 4. Penyimpangan sikap keagamaan dari sebelumnya, yaitu jika terlihat sikap yang menyimpang dilakukan seseorang (utamanya mereka yang punya pengaruh besar), ternyata dirasakan punya pengaruh sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat, maka akan dimungkinkan terjadinya integritas sosial untuk menampilkan sikap yang sama, walau pun disadari itu merupakan sikap yang menyimpang dari sikap sebelumnya. Selain faktor-faktor di atas, dikemukakan beberapa teori psikologis oleh para ahli yang mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut, antara lain sebagai berikut: 1. Teori stimulus dan respon: perubahan sikap dipengaruhi oleh tiga variabel (perhatian, pengertian, dan penerimaan) 2. Teori pertimbangan sosial: perubahan sikap dipengaruhi oleh faktor internal (persepsi sosial, posisi sosial dan proses belajar sosial), faktor eksternal (penguatan, komunikasi persuasif, dan harapan yang diinginkan). 3. Teori konsistensi: perubahan sikap dipengaruhi oleh keharmonisan 4. Teori fungsi: perubahan sikap dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang. Gangguan dalam Perkembangan Sikap Keagamaan Dalam penjelasan sebelumnya, bahwa sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama serta tindak keagamaan seseorang. Walaupun sikap terbentuk karena pengaruh lingkungan, namun faktor individu itu sendiri ikut pula menentukan. Menurut Siti Partini, pembentukan sikap dan perubahan sikap dipengaruhi oleh duafaktor yaitu:1). Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan menganalisis pengarah yang datang dari luar termasuk minat dan perhatian. 2). Faktor eksternal, berupa faktor diluar induvidu yaitu pengaruh lingkungan yang diterima. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan yaitu: 1. Faktor Intern a. Faktor Hereditas. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw bersabda: Tiap-tiap anak dilahirkan diatas Fitrah, maka ibu bapaknya-lah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani dan majusi”. Pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan fitrah (potensi beragama), hanya faktor lingkungan (orang tua) yang mempengaruhi perkembangan fitrah beragama anak. Dari sini, jiwa keagamaan anak berkaitan erat dengan hereditas (keturunan) yang bersumber dari orangtua, termasuk keturunan beragama. b. Tingkat usia Sikap keagamaan anak akan mengalami perkembangan sejalan dengan tingkat usia anak. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai aspek kejiwaan termasuk kemampuan berpikir anak. Anak yang menginjak usia berpikir kritis lebih kritis pula dalam memahami ajaran agamanya, baik yang diterima di sekolah maupun diluar sekolah. c. Kepribadian Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur tersebut yang membentuk kepribadian. Adanya keduan unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan pada unsur bawaa, sedangkan karakter ditekankan pada pengaruh lingkungan. Tiplogi menunjukkan bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik dan besifat masing- masing berbeda. Sebaliknya karakter menunjukkan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan pengalaman lingkungan. Dilihat dari pandangan tipologis, kepribadian manusia tidak dapt diubah karen asudah terbentuk berdasarkan komposisi dalam tubuh. Sebaliknya dilihat dari pendekata karakterologis, kepribadian manusia dapat diubah dan tergantung dari pengaruh lingkungan masing-masing. Unsur bawaan merupakan faktor intren yang memberi ciri khas pada diri seseorang. Dalam kaitan ini, kepribadian sering disebut sebagai identitas (jati diri) seseorang yang sedikit banyaknya menampilkan ciri- ciri pembeda dari individu luar dirinya. Dalam kondisi normal, memang secar individu manusia memiliki perbedaan dalam kepribadian. Perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembanga aspek- aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Di luar itu dijimpai pula kondisi kepribadian yang menyimpang seperti kepribadian ganda. Dan kondisi seperti ini bagaimanapun ikut mempengaruhi perkembangan berbagai aspek kejiwaan pula. d. Kondisi Kejiwaan Kondisi kejiwaan ini terkait dengan kepribadian sebagi faktor intren. Ada beberapa model pendekatan yang mengungkapkan hubungan ini. Model psikodinamik yang diungkapkan Sigmund freud menunjukkan gangguan kejiwaan yang ditimbulkan konflik yang tertekan di alam ketidaksadaran manusia. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal. Selanjutnya menurut pendekata biomedis, fungsi tubuh yang dominan mempengaruhi kondisi jiwa seseorang. Penyakit ataupun faktor genetik atau kondisi sistem saraf diperkirakan menjadi sumber munculnya perilaku abnormal. Kemudian pendekatan eksistensial menekankan pada dominasi pengalaman kekinian manusia. Dengan demikian sikap manusia ditentukan oleh rangsangan lingkungan yang dihadapinya saat itu. Walaupun kemudian ada pendekatan model gabungan. Menurut pendekatan ini pola kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor dan bukan hanya oleh faktor- faktor tertentu saja. Pendekatan psikologi kepribadian menginformasikan bagaimana hubungan kepribadian dengan kondisi kejiwaan manusia hubungan ini selanjutnya mengungkapkan bahwa ada suatu kondisi kejiwaan yang cenderung bersifat permanen pada diri manusia yang terkadang bersifat menyimpang. 2. Faktor Ekstern Manusia memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan sebagai makhluk yang beragama. Potensi yang dimiliki manusia secara umum disebut fitrah beragama atau hereditas. Sebagai potensi, maka perlu adanya pengaruh dari luar diri manusia, pengaruh tersebut berupa pemberian pendidikan (bimbingan, pengajaran, dan latihan). Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan adalah lingkungan dimana individu itu hidup, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. a. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak,oleh karena itu peranan keluarga dalam menanamkan kesadaran beragama anak sangatlah dominan. Pengaruh orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan anak dalam pandangan islam sudah lama disadari. Salah seorang ahli psikologi, Hurlock berpendapat bahwa keluarga merupakan “Training Center” bagi penanaman nilai (termasuk nilai-nilai agama). Pendapat ini menunjukkan bahwa keluarga mempunyai peran sebagai pusat pendidikan bagi anak untuk memperoleh pemahaman tentang nilai- nilai (tata karma, sopan santun,atau ajaran agama) dan kemampuan untuk mengamalkan atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara personal maupun social kemasyarakatan. b. Lingkungan Institusional Lingkungan intitusional ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun nonformal seperti berbagai pwerkumpulan dan organisasi. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program yang sistemik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran, dan latihan kepada siswa agar mereka berkembang sesuai dengan potensi secara optimal, baik menyangkut aspek fisik, psikis,(intelektual dan emosional), social, maupun moral-spiritual. Menurut Singgih D.Gunarsa, sekolah mempunyai pengaruh dalam membantu perkembangan kepribadian anak. Pengaruh itu dapat dibagi menjadi tiga yaitu:1) Kurikulum yang berisikan materi pengajaran. 2) Adanya hubungan guru dan murid. 3) Hubungan antar anak (pergaulan) sekolah. Dilihat dari kaitannya dengan jiwa keagamaan, tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh sebab sikap keagamaan tidak dapat dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yangluhur. c. Lingkungan Masyarakat Setelah menginjak usia sekolah, sebagian besar waktu anak dihabiskan disekolah dan masyarakat. Dalam masyarakat, anak melakukan interaksi sosial dengan teman sebayanya atau anggota masyarakat lainnya. Maka dari itu perkembangan jiwa keagamaan anak sangat bergantung pada kualitas perilaku atau akhlak warga masyarakatitu sendiri. Dalam upaya menanamkan sikap keagamaan pada anak, maka ke tiga lingkungan tersebut secara sinergi harus bekerja sama, dan bahu-membahu untuk menciptakan iklim, suasana lingkungan yang kondusif. Dengan demikian walaupun sikap keagamaan merupakan bawaan (internal) tetapi dalam pembentukan dan perubahannya ditentukan oleh faktor eksternal. Fanatisme dan Ketaatan Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembanagn jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. Mengacu pada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi, maka tradisi keagamaan memenuhi kedua aspek tersebut. Suatu tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). Selain itu juga terjadi hubungan dengan benda- benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi) seperti institusi keagamaan sejenisnya. Hubungan ini menurut tesis Erich Fromm berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter, yaitu: 1) arahan tradisi (tradition directed) 2) arahan dalam (inner directed) 3) arahan orang lain (other directed), sebagai jabaran tipe karakter Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan dalam pembentukan kepribadian, aspek emosional di pandang sebagai unsur dominan. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agam agaknya tidak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. David Riesman melihat bahwa tradisi kultural sering sering dijadikan penentu di mana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek. Dalam menyikapi tradisi keagamaan juga tak jarang munculnya kecendrungan seperti itu. Jika kecenderungan taklid keagamaan tersebut dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan, maka terbuka bagi pembenara spesifik. Kondisi ini akan menjurus kepada fanatisme. Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama. Sifat ini dibedakan dari ketaatan. Sebab ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (inner directed) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Kesimpulan Kesadaran dan pengalaman keagamaan seseorang akan menimbulkan sikap keagamaan. Sikap keagamaan adalah perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan batin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya. Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi (pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang. Wujud dari sikap keagamaan oleh para penganutnya berupa pola tingkah laku keagamaan sebagai bentuk ketaatan terhadapa ajaran agamanya. Namun, dalam perjalanan pemeluk agama ditemukan beberapa sikapa keagamaan yang menyimpang. Seseorang dalam pertumbuhan dan perkembangan hidupnya akan melalui proses belajar terhadapa lingkungan yang kan mempengaruhi jiwa dan sikap keagamaan terkait bagaimana dapat melakukan penyesuaian diri terhadapa apa yang ada pada dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Perkembangan jiwa keagamaan seseorang dipengaruhi oleh faktor intern yaitu faktor hereditas (keturunan atau bawaan sejak lahir), tingkat usia (perkembangan berpikir), kepribadian (pembentukan kepribadan yang dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan hidup), kondisi kejiwaan (ditimbulkan konflik yang tertekan di alam ketidak sadaran manusia) dan faktor ekstern yaitu lingkungan keluarga (citra terhadap orang tua), lingkungan institusional berupa intitusi formal ataupun yang nonformal, lingkungan masyarakat (norma dan nilai- nilai di masyarakat).

1 komentar:

Tareqat Cinta mengatakan...

selama tak tinggal,, kecerdasanmu gak ono sng nyaingi yo..
kapan yo konco2 iso koyok kang parjay

Poskan Komentar

Design by Zay Arief